Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

dwiretnosafitri1.blogspot.com
Lihat profil lengkapku

About Me

dwiretnosafitri1.blogspot.com
Lihat profil lengkapku
RSS

KARAKTERISTIK CARA BELAJAR PAUD DAN KELAS AWAL SD/MI


KARAKTERISTIK CARA BELAJAR PAUD DAN KELAS AWAL SD/MI


 

 



 

Makalah disusun sebagai Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Terpadu/Tematik

Dosen Pengampu : Drs. H. Sadiman, M.Pd

 

 

Disusun oleh : Kelompok 2

 

1.    Asih Muryani                         K8113012

2.    Dwi Retno Safitri                  K8113023

3.    Fitriyani                                 K8113031

4.    Husnul Mar’ati                      K8113036

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2014



 

BAB I


PENDAHULUAN


 

A.    Latar Belakang

Pendidikan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan dalam arti luas bertujuan mengembangkan potensi setiap individu dan setiap individu berhak mendapatkan pendidikan yang sama, sehingga hak untuk memperoleh pendidikan baik perempuan atau laki-laki adalah sama. Pendidikan erat kaitannya dengan belajar, dan antara satu anak dengan anak yang lain memiliki gaya belajar atau cara belajar yang berbeda untuk memahami sebuah pelajaran. Orang dewasa utamanya pendidik perlu memahami karakteristik cara belajar anak untuk dijadikan sebagai acuan dalam menentukan metode belajar yang menyenangkan bagi anak sehingga anak mudah dalam menerima materi yang diajarkan oleh pendidik.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan pendidikan yang sangat penting dan sering disebut dengan usia emas atau golden age. Pada masa ini kemampuan anak akan berkembang secara optimal apabila diiringi dengan pemberian stimulasi yang tepat dari lingkungannya. Pendidikan anak usia dini merupakan upaya untuk menstimulasi anak memberikan bimbingan dan pengasuhan agar anak mampu mencapai tugas perkembangannya dengan optimal serta mengembangkan kemampuan dan keterampilan anak.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana karakteristik perkembangan anak usia PAUD ?

2.      Bagaimana aspek perkembangan anak usia dini ?

3.      Bagaimana karakteristik anak kelas awal SD/MI ?

4.      Bagaimana aspek perkembangan anak kelas awal SD/MI ?

5.      Bagaimana karakteristik cara belajar anak PAUD ?

6.       Bagaimana karakteristik cara belajar anak kelas awal SD/MI ?

 

 

 

 

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui karakteristik perkembangan anak usia PAUD.

2.      Untuk mengetahui karakteristik anak usia awal SD/MI.

3.      Untuk mengetahui aspek perkembangan anak usia dini.

4.      Untuk mengetahui aspek perkembangan SD/MI.

5.      Untuk mengetahui karakteristik cara belajar anak PAUD.

6.      Untuk mengetahui karakteristik cara belajar anak kelas awal SD/MI.


 

BAB II


ISI


 

1.      Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini


Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun (Permen No. 58 th 2009), selain itu pasal 28 UU Sisdiknas No. 20/2003 ayat 1 juga menyebutkan bahwa rentang anak usia dini adalah 0-6 tahun sedangkan menurut kajian ilmu PAUD dan penyelenggaraannya dibeberapa negara PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun. Anak usia dini sering disebut sebagai masa golden age atau golden years. Hal ini karena perkembangan anak secara kognisi berkembang secara maksimal pada masa ini. Hal-hal yang harus dipahami dalam karakteristik anak usia dini (Hall & Lindzey :1993) :

1)      Mengetahui hal-hal yang dibutuhkan anak, bagi perkembangan hidupnya.

2)      Mengetahui bagaimana membimbing proses belajar anak pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhanya.

3)      Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak, sehingga dapat memberikan stimulasi kepada anak agar dapat melaksanakan tugas perkembangannya dengan baik.

4)      Mampu mengembangkan potensi anak secara optimal baik dari kemampuan fisik atau psikisnya sesuai dengan keadaan.

Secara lebih rinci, karakteristik anak usia dini sesuai dengan tingkatan usianya yaitu (Utami, 2012):

a)      Usia 0 – 1 tahun


Pada masa bayi perkembangan fisik mengalami kecepatan luar biasa, paling cepat dibanding usia selanjutnya. Berbagai kemampuan dan ketrampilan dasar dipelajari anak pada usia ini. Beberapa karakteristik anak usia bayi dapat dijelaskan antara lain :

1)      Mempelajari ketrampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan.

2)      Mempelajari ketrampilan menggunakan panca indera, seperti melihat atau mengamati, meraba, mendengar, mencium dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke mulutnya.

3)      Mempelajari komunikasi sosial. Bayi yang baru lahir telah siap melaksanakan kontrak sosial dengan lingkungannya. Komunikasi responsif dari orang dewasa akan mendorong dan memperluas respon verbal dan non verbal bayi.

4)      Berbagai kemampuan dan ketrampilan dasar tersebut merupakan modal penting bagi anak untuk menjalani proses perkembangan selanjutnya.

b)      Usia 2 – 3 tahun


Anak pada usia ini memiliki beberapa kesamaan karakteristik dengan masa sebelumnya. Secara fisik anak masih mengalami pertumbuhan yang pesat. Beberapa karakteristik khusus yang dilalui anak usia 2 – 3 tahun antara lain :

1)      Anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia memiliki kekuatan observasi yang tajam dan keinginan belajar yang luar biasa. Eksplorasi yang dilakukan oleh anak terhadap benda-benda apa saja yang ditemui merupakan proses belajar yang sangat efektif. Motivasi belajar anak pada usia tersebut menempati grafik tertinggi dibanding sepanjang usianya bila tidak ada hambatan dari lingkungan.

2)      Anak mulai mengembangkan kemampuan berbahasa. Diawali dengan berceloteh, kemudian satu dua kata dan kalimat yang belum jelas maknanya. Anak terus belajar dan berkomunikasi, memahami pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan pikiran.

3)      Anak mulai belajar mengembangkan emosi. Perkembangan emosi anak didasarkan pada bagaimana lingkungan memperlakukan dia. Sebab emosi bukan ditemukan oleh bawaan namun lebih banyak pada lingkungan.

c)      Usia 4-6 tahun


Anak usia 4 – 6 tahun memiliki karakteristik antara lain :

1.      Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal ini bermanfaat untuk mengembangkan otot-otot kecil maupun besar.

2.      Perkembangan bahasa juga semakin baik. Anak sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu.

3.      Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar. Hal itu terlihat dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang dilihat.

4.      Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial. Walaupun aktifitas bermain dilakukan anak secara bersama.

2.      Aspek Perkembangan Anak Usia Dini


Adapun karakteristik perkembangan anak usia dini dapat dilihat dari berbagai aspek, yaitu sebagai berikut : perkembangan fisik motorik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial-emosi, perkembangan bahasa, dan perkembangan nilai agama dan moral.

1.   Perkembangan Fisik Motorik

Perkembangan fisik merupakan dasar dari perkembangan kemajuan perkembangan berikutnya. Proporsi tubuh berubah secara signifikan, yakni pada usia tiga tahun rata-rata tinggi sekitar 80-90 cm dan berat sekitar 10-13 kg, sedangkan pada usia lima tahun tinggi sudah mencapai 100-110 cm. Tulang kaki tumbuh dengan cepat dan pertumbuhan gigi sudah mulai lengkap, sehingga anak sudah mulai menyukai makanan padat, seperti nasi, daging, dan telur. Perkembangan fisik juga beriringan dengan perkembangan motorik anak, baik motorik kasar maupun motorik halus.

Usia
Kemampuan Motorik Kasar
Kemampuan Motorik Halus
3-4 tahun
a.       Naik dan turun tangga
b.      Meloncat dengan dua kaki
c.       Melempar bola
1.      Menggunakan krayon
2.      Menggunakan benda atau alat
3.      Meniru bentuk atau gerak orang lain
4-6 tahun
b.      Meloncat
c.       Mengendarai sepeda anak
d.      Menangkap bola
 
1.Menggunakan pensil
2.Menggambar
3.Memotong dengan gunting.

 

2.   Perkembangan Kognitif

Salah satu tokoh yang memberikan kontribusi terhadap teori kognitif adalah Piaget. Piaget berpendapat bahwa perkembangan manusia dapat digambarkan dalam konsep fungsi dan struktur. Fungsi merupakan mekanisme biologis bawaan yang sama bagi setiap orang atau kecenderungan biologis untuk mengorganisasi pengetahuan kedalam struktur. Tujuan fungsi adalah menyusun struktur kognitif internal. Sementara struktur merupakan interelasi (saling berkaitan) sistem pengetahuan yang mendasari dan dan membimbing tingkah laku inteligen.

Perkembangan kognitif sesuai dengan teori Jean Piaget ada 4 tahap yaitu :

a.      Tahap sensorimotor (0-2 tahun)

Pada tahap ini pengetahuan anak diperoleh melalui interaksi fisik, baik dengan orang atau objek (benda). Skema-skemanya baru berbentuk refleks sederhana seperti menggenggam dan menghisap.

b.      Tahap pra-operasional (2-6 tahun)

Anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk merepresentaikan dunia atau lingkungan secara kognitif. Simbol-simbol itu seperti : kata-kata dan bilangan yang dapat menggantikan objek, peristiwa dan kegiatan (tingkah laku) yang tampak). Pada masa ini kemampuan anak menerima rangsang masih terbatas, anak juga mulai berkembang bahasanya meskipun  pemikirannya masih statis dan belum dapat berfikir secara abstrak.

c.       Tahap operasional konkret (6-11 tahun)

Pada tahap inianak mulai mampu menyesuaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menderetkan, dan melipat. Anak juga sudah dapat membentuk operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat menambah, mengurangi atau mengubah. Operasi ini memungkinkan anak untuk dapat memecahkan masalah secara logis.

d.      Tahap operational formal (11 tahun-dewasa)

Periode ini merupakan operasi mental tingkat tinggi. Pada masa ini anak sudah bisa diajak berfikir secara abstrak. Dengan kata lain pada usia ini anak sudah tidak dikategorikan sebagai anak usia dini lagi, akan tetapi sudah beranjak remaja dan memasuki masa dewasa.

 

Dari empat tahap perkembangan kognitif Piaget, dapat disimpulkan bahwa anak TK atau PAUD berada pada tahap Praoperasional, yang ditandai sebagai berikut :

a.       Egosentrisme, yang bukan berarti selfishness (egois) tetapi merujuk pada kecenderungan menafsirkan sesuatu berdasarkan sudut pandang sendiri.

b.      Kaku dalam berfikir (rigid of thought). Salah satu contohnya yaitu berfikir secara memusat, yaitu cenderung berpikir atas dasar dimensi.

c.       Semilogical reasoning. Anak-anak mencoba untuk menjelaskan peristiwa alam yang misterius yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya anak memandang bahwa matahari dan bulan dipandang seperti manusia, mereka hidup dan suka lelah.

 

3.   Perkembangan Sosial-Emosi

a.       Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial anak sudah mulai jelas, karena sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya. Tanda-tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah :

1.         Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan bermain.

2.         Sedikit demi sedikit anak mulai tunduk dengan peraturan.

3.         Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain.

4.         Anak mulai dapat bermain dengan anak-anak lain atau teman sebaya (peer group)

b.      Perkembangan Emosi

Pada anak usia PAUD anak sudah mulai menyadari akunya, bahwa akunya (dirinya) berbeda dengan orang lain ataupun berbeda dengan benda. Beberapa emosi yang berkembang pada anak usia PAUD yakni :

a)      Takut, yaitu perasaan terancam oleh objek yang dianggap membahayakan.

b)      Cemas, yaitu perasaan takut yang bersifat khayalan, yang tidak ada objeknya. Kecemasan anak usia PAUD muncul dari sesuatu yang dikhayalkan. Contoh perasaan cemas itu antara lain takut di tempat yang gelap karena takut hantu.

c)      Marah, merupakan perasaan tidak senang atau benci terhadap sesuatu tertentu. Pada masa ini marah terjadi karena : 1. Banyak stimulus yang menimbulkan kemarahan. 2. Banyak anak yang menemukan bahwa marah merupakan cara untuk mendapatkan perhatian khusus.

d)     Ingin tahu (curiosity), yaitu perasaan ingin mengetahui segala sesuatu atau objek-objek yang bersifat fisik maupun nonfisik. Perasaan ini ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh anak.

 

4.    Perkembangan Bahasa

Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa erat kaitannya dengan perkembangan pikiran individu, dan perkembangan pikiran individu dimulai pada usia 1,6-2 tahun. (Prof. Yusuf : 2012)

Perkembangan pikiran tersebut dimulai pada saat anak dapat menyusun kalimat dua atau tiga kata. Laju perkembangan tersebut yaitu :

1.      Usia 1,6 tahun, anak daat menyusun pendapat positif seperti : “Bapak makan”

2.      Usia 2,6 tahun, anak dapat menyusun pendapat negatif seperti : “Bapak tidak makan”. Pada usia 2-3 tahun anak juga mengalami perkembangan bahasa egocentric speech. Egocentric speech yaitu anak berbicara kepada dirinya sendiri (monolog). Berbicara monolog berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak.

 

5.   Perkembangan Nilai Agama dan Moral (NAM)

Pengetahuan anak tentang agama terus berkembang berkat mendengarkan ucapan orang tua, melihat sikap dan perilaku orang tua dalam mengamalkan ibadah dan berkat lingkungan yang mendukung seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an ataupun yang lain. Sedangkan pengetahuan moral anak mulai terbentuk karena lingkungan melalui interaksi dengan orang lain (orang tua, saudara atau teman sebaya). Anak belajar memahami perilaku yang baik dan buruk, yang boleh dan tidak boleh  atau hal yang lain yang dijadikan norma di lingkungan tempat anak tinggal.

 

3.      Karakteristik Anak Kelas Awal SD/MI


 

Anak kelas awal SD/MI rata-rata berusia 7-9 tahun, dan karakteristik umum yang bisa diamatai dari anak kelas awal SD/MI antara lain sebagai berikut :

1.      Perkembangan kognitif anak masih berada pada masa yang cepat. Dari segi kemampuan, secara kognitif anak sudah mampu berpikir bagian per bagian. Artinya anak sudah mampu berpikir analisis dan sintesis, deduktif dan induktif.

2.      Perkembangan sosial anak mulai ingin melepaskan diri dari otoritas orangtuanya. Hal ini ditunjukkan dengan kecenderungan anak untuk selalu bermain di luar rumah bergaul dengan teman sebaya.

3.      Anak mulai menyukai permainan sosial. Bentuk permainan yang melibatkan banyak orang dengan saling berinteraksi.

4.      Perkembangan emosi anak sudah mulai berbentuk dan tampak sebagai bagian dari kepribadian anak. Walaupun pada usia ini masih pada taraf pembentukan, namun pengalaman anak sebenarnya telah menampakkan hasil.

4.      Aspek Perkembangan Anak Kelas Awal SD/MI


Secara spesifik aspek perkembangan anak awal SD/MI antara lain :

1.   Perkembangan Fisik Motorik

Perkembangan fisik mencakup pertumbuhan biologis misalnya otak, otot, dan tulang. Seiring dengan perkembangan fisik yang beranjak matang, maka perkembangan motorik anak sudah mulai berkembang dengan baik. Pada masa ini aktivitas gerak motorik anak sudah mulai lincah. Perkembangan fisik anak awal SD/MI yang bisa diamati antara lain (Sumantri, dkk, 2005)

a.       Usia masuk kelas satu SD atau MI dalam periode peralihan dari pertumbuhan cepat masa anak-anak awal ke suatu fase perkembangan yang lebih lambat. Ukuran tubuh anak relatif kecil perubahannya selama tahun-tahun di SD.

b.      Usia 9 tahun tinggi dan berat badan anak laki-laki dan perempuan kurang lebih sama. Sebelum usia 9 tahun anak perempuan relatif lebih pendek dan lebih langsing.

 

2.   Perkembangan Kognitif

Setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Teori tersebut dikemukakan oleh Jean Piaget pada tahun 1950. Piaget menyatakan bahwa setiap anak memiliki struktur kognitif berupa skemata yang disebut dengan sistem. Konsep yang berada dalam pikiran anak adalah hasil terhadap pemahaman terhadap objek yang berada dilingkungan anak. Piaget membagi pemahaman tersebut menjadi dua, yaitu asimilasi dan akomodasi.

a.       Asimilasi merupakan pemahaman terhadap objek dengan cara menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran anak.

b.      Akomodasi merupakan proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan sebuah objek.

Perkembangan kognif anak kelas awal SD/MI mencakup perubahan-perubahan dalam perkembangan pola pikir dari praoperasional menuju operasional konkrit, atau dengan kata lain dari berfikir secara simbolik menuju ke pemikiran secara logis.

Pada masa TK daya pikir anak masih bersifat imajinatif, sedangkan pada usia SD sudah berkembang kearah berpikir secara rasional.

Periode ini ditandai dengan tiga kemampuan atau kecakapan baru, yaitu mengklasifikasikan, menyusun dan mengasosiasikan atau menghubungkan dan menghitung.

 

3.   Perkembangan Bahasa

Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan dan menguasai perbendaharaan kata. Pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata (Abin Syamsudin, 1991; Syamsu Yusuf, 2012)

4.   Perkembangan Sosial-Emosi

1)      Perkembangan Sosial

Pada usia ini anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri, mulai mengembangkan sikap kooperatif (kerja sama) dan sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain).

2)      Perkembangan Emosi

Pada masa ini anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Oleh karena itu anak mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol emosinya. Kemampuan mengontrol emosi ini diperoleh melalui peniruan dan latihan atau pembiasaan. Dalam proses peniruan peran orangtua sangatlah penting.

 

5.   Perkembangan Nilai Agama dan Moral

Perkembangan usia Sekolah Dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama sebagai kelanjutan dari periode sebelumnya. Kualitas keagamaan anak akan sangat dipengaruhi oleh pembentukan atau pendidikan yang diterimanya. Oleh karena itu pembentukan agama di Sekolah Dasar sangatlah penting. Sementara anak mulai mengenal konsep moral (baik dan benar) pertama kali dari lingkungan keluarga. pada usia Sekolah Dasar anak sudah dapat mengikuti peraturan dari lingkungan keluarga maupun dari lingkungan sosialnya.  Pada akhir usia Sekolah Dasar anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan.

5.      Karakteristik Cara Belajar PAUD


Perkembangan kognitif anak PAUD merupakan fase transisi dari operasi konkret meuju operasi formal. Cara berpikir anak TK masih berpijak pada pengalaman benda-benda konkret karena pada usia ini anak belum mampu diajak berpikir secara abstrak. Pada tahap ini hal yang terbaik untuk mengajarkan anak adalah dengan menghadirkan benda-benda atau sesuatu yang konkrit.

Pada tahap ini cara berikir anak juga transduktif. Anak menghubungkan benda-benda yang baru dipelajarinya berdasarkan pengalamannya berinteraksi dengan benda-benda sebelumnya. Anak biasanya hanya memperhatikan salah satu ciri benda yang menurutnya paling menarik untuk membuat suatu kesimpulan. Cara pengambilan kesimpulan seperti itu disebut cara berpikir transduktif. Misalnya, anak pernah melihat balon berwarna merah dengan gambar yang menarik, maka ketika ia akan membeli balon, ia akan memilih balon yang berwarna merah.

Anak TK juga masih sulit membuat generalisasi atau menarik kesimpulan yang mencakup semua fakta. Sebagai contoh, anak dihadapkan pada satu keranjang buah-buahan yang di dalamnya ada pisang, semangka, salak dan langsat. Kemudian ditanyakan apa isi keranjang tersebut, maka anak akan menjawab dengan menyebutkan satu persatu isi keranjang tersebut, yaitu pisang, langsat, salak dan semangka berturut-turut sesuai apa yang paling digemarinya. Mereka tidak mengambilan kesimpulan bahwa isi keranjang tersebut adalah buah-buahan.

Dari cara berpikir anak TK diatas, hal yang mempengaruhi kagiatan belajar anak juga adalah bergantung pada tipe kecerdasan dan modalitas belajar anak yang berbeda. Sehingga pembelajaran untuk tiap anak juga akan sangat menentukan keberhasilan mereka. Modalitas belajar ialah semua organ indera yang mendukung fungsi belajar anak. Ada anak yang memiliki pendengaran yang tajam, selain itu ada anak yang penglihatannya awas dan tajam atau perabaannya yang sensitif. Di sisi lain, ada anak yang memiliki perasaan yang peka. Semua modalitas belajar tersebut selanjutnya digunakan untuk belajar.

6.      Karakteristik Cara belajar Anak Kelas Awal SD/MI


Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang.

Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.

Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat. Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:

1. Konkrit

Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.

2. Integratif

Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.

 

 

 

 

3. Hierarkis

Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .

 


 

BAB III


PENUTUP


A.    KESIMPULAN

Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun (Permen No. 58 th 2009), selain itu pasal 28 UU Sisdiknas No. 20/2003 ayat 1 juga menyebutkan bahwa rentang anak usia dini adalah 0-6 tahun sedangkan menurut kajian ilmu PAUD dan penyelenggaraannya dibeberapa negara PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun. Anak usia dini sering disebut sebagai masa golden age atau golden years. Hal ini karena perkembangan anak secara kognisi berkembang secara maksimal pada masa ini. Sementara itu anak kelas awal SD berada pada rentang usia 7-9 tahun.

Anak usia TK/PAUD berada pada tahap praoperasional sedangkan anak kelas awal SD/MI berada pada tahap operasi konkrit. Aspek-aspek perkembangan anak usia dini maupun anak kelas awal SD/MI meliputi perkembangan kognitif, nilai agama dan moral, fisik motorik, sosial-emosi, dan perkembangan bahasa.

Cara berpikir anak TK mempengaruhi kagiatan belajar anak, tergantung pada tipe kecerdasan dan modalitas belajar anak yang berbeda. Sehingga pembelajaran untuk tiap anak juga akan sangat menentukan keberhasilan mereka. Modalitas belajar ialah semua organ indera yang mendukung fungsi belajar anak. Ada anak yang memiliki pendengaran yang tajam, selain itu ada anak yang penglihatannya awas dan tajam atau perabaannya yang sensitif. Di sisi lain, ada anak yang memiliki perasaan yang peka. Semua modalitas belajar tersebut selanjutnya digunakan untuk belajar. Sementara itu, cara belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu: konkrit, kierarkis, dan integratif.

 

           

DAFTAR PUSTAKA

 

Lismadiana. Tahun Tidak Tercantum. Peran Perkembangan Motorik pada Anak Usia Dini. Yogyakarta : Dosen FIK UNY Makalah Tidak Diterbitkan.

Tanpa nama. 2014. Model Pembelajaran Efektif di Sekolah Dasar. Makassar : Universitas Negeri Makassar

Utami, F. (2012, Desember 17). KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI. Dipetik September 17, 2014, dari febrianiutami0711: http://paud-anakbermainbelajar.blogspot.com/2014/06/karakteristik-perkembangan-anak-usia.html

Yusuf, Syamsu. 2012. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar